Kijang Kapsul [Generasi 4 (A) : 1997-2000 (KF70/KF80)]

 

Produksi Kijang mencapai puncaknya sebelum krismon, mencapai rata-rata mendekati 5000 unit per bulan. Setelah krismon, produksi sempat drop, tetapi kemudian bergerak mendekati level sebelum krismon lagi walaupun dari sisi harga-harga sudah jauh berubah. Hal ini mengukuhkan Kijang sebagai mobil terlaris di Indonesia sepanjang masa.

 

 

Bulan Januari 1997, TAM kembali meluncurkan Kijang terbarunya. Pada generasi keempat ini, bentuk Kijang mengalami perubahan total, tampil lebih aerodinamis dengan lekukan yang lebih halus sehingga sering disebut "Kijang Kapsul". Kemunculan ini merupakan suatu revolusi konsep desain. Garis-garis body Kijang Kapsul tidak menyisakan garis-garis dari generasi terdahulu.

 

Maret 1997 diluncurkan varian Krista dan Rangga. Keduanya bodynya dibuat two-tone mungkin terilhami oleh trend two-tone saat itu yang antara lain diadopsi cukup sukses oleh Suzuki Escudo dan varian Panther tertentu buatan karoseri. Kijang Rangga (Krista dalam chassis short, mendekati model jip) berikutnya tidak begitu sukses di pasaran dan tidak berlanjut produksinya. Pada periode ini muncul juga Kijang kapsul dengan desain meniru Toyota Landcruiser  kapsul yang oleh sejumlah kalangan disebutkan sebagai 'baby landcruiser' (?). 'Baby landcruiser' (yang dibuat oleh Karoseri, seperti gambar di bawah) ini juga tidak berlanjut karena masyarakat selanjutnya cenderung memilih original body ex. TAM yang lebih simpel, handal, dan massal. Jumlah varian generasi ini sempat mencapai 17 model belum termasuk buatan karoseri.

 

 

 

Selain trend two-tone pada periode ini juga muncul trend warna metalic, sehingga si kapsul mulai bermunculan dengan warna-warna metalik. Umumnya mobil berwarna metalic pada berharga sedikit lebih mahal dibanding mobil berwarna solid (sekitar 200 ribuan rupiah?). Pada kapsul generasi berikutnya (2000 ke atas), bahkan hampir seluruh Kijang kapsul tipe mewah (LSX, LGX, Krista/Rangga) tidak dijual kecuali dalam warna metalik (kecuali satu-dua warna solid saja). Mengapa ada ya non-metalik itu kok istilahnya solid? Apakah lalu yang metalik itu merupakan warna yang tidak solid? Padahal kita sama-sama tahu menggarap warna metalik itu kan lebih solid (eh, ini sih sulit, ding).

 

Keberanian Toyota untuk tampil dengan desain yang revolusioner ini merupakan prestasi tersendiri. Kemampuan berrevolusi ini menjadi salah satu keunggulan mengapa Toyota Kijang bertahan. Kemampuan seperti ini tidak dimiliki oleh Mitsubishi Colt T120s pada masa lalu, dan itu merupakan salah satu alasan mengapa kejayaannya berakhir. Dengan desain yang lebih baru ini, Toyota Kijang membuat Isuzu Panther yang mulai menyaingi tertinggal satu generasi dalam desain. Ketika Panther dihantui oleh pencolengan dengan cara membeset kaca kecil belakang, Kijang sudah terlepas dari masalah itu. Pada generasi sebelumnya, pintu belakang Kijang bahkan bisa dibuka maling dengan cara melepas terlebih dahulu mika lampunya, tetapi itu tidak terjadi lagi pada generasi kapsul.

 

Tiga tahun kemudian, barulah Panther mampu muncul dengan desain 'kapsul'-nya. Sementara, Mitsubishi Kuda yang dikompetisikan langsung dengan Toyota Kijang dipersepsi oleh sebagian orang masih memiliki desain body sekelas Kijang Super/Grand. Desain kapsul itu juga mendekatkan gap antara Kijang dan Daihatsu Taruna serta mobil-mobil built-up monokok yang muncul kemudian.

 

 

Kijang dengan kode KF70 dan KF80 ini juga mengalami perubahan konfigurasi tempat duduk bagian belakang. Untuk chasis long tipe Deluxe dan Grand, tempat duduk bagian belakang menghadap ke depan dan bisa dilipat, sehingga menambah kenyamanan penumpang. Ini juga merupakan keunggulan desain Kijang yang lain yang mendekatkannya dengan produk-produk MPV sungguhan macam KIA Carens dan KIA Carnival; dan memisahkannya dari Panther, Kuda, dan Taruna yang baris ketiganya berhadap-hadapan.

 

Belakangan tiga baris hadap depan ini menjadi trend dan diikuti oleh Panther, Kuda, Taruna, dan mobil-mobil saingan Kijang yang lain seperti Nissan Terano dan Opel Blazer.

 

 

Khusus untuk Kijang Grand (LGX dan Krista), kursi baris keduanya bertipe reclining. Ini merupakan salah satu keunggulan Kijang dibandingkan sedan untuk perjalanan jarak jauh selain kabinnya yang luas. Seperti kita ketahui, sedan mewah pun umumnya tidak memiliki kursi belakang reclining, padahal untuk perjalanan jauh, fleksibilitas seperti itu dapat menurunkan tingkat kelelahan. Sudah tentu, selain keunggulan, bahkan versi kapsul Toyota Kijang pun masih memiliki sejumlah kelemahan dibanding sedan atau mobil lain yang lebih modern.

 

 

Dashboard-nya juga mengalami perubahan total menjadi lebih berkelas dan betul-betul seindah sedan kelas tertentu. Dilengkapi dengan hampir seluruh fasilitas yang ada pada sedan menengah, mulai dari AC, radio/tape berkelas, power mirror, power window, central lock, dan seterusnya.

 

Penyetelan katup sudah menggunakan sistem hidrolik. Tenaga meningkat menjadi 80 ps. Transmisi tersedia dalam 4-speed, 5-speed, dan otomatis 4-speed. Mesin yang dipergunakan masih tetap 7K 1800cc.